Izin 13 Hotel di Bogor Akan Dievaluasi

Kamis, 28 Mei 2015

Pemerintah Kota Bogor akan mengevaluasi izin hotel dan bangunan yang telah diterbitkan karena banyak warga sekitar bangunan itu yang mengeluh dan protes.

Menurut Wali Kota Bogor Bima Arya ada sekitar 13 hotel dan bangunan komersial yang perizinannya akan pihaknya evaluasi. Beberapa bangunan dan hotel itu antara lain, Hotel Savero, Hotel Whizz dan rencana pembangunan hotel dan mal di terminal Baranangsiang dan Rancamaya, serta pembangunan apartemen Botanical di sekitar Universitas Pakuan. “Kami juga akan mengecek izin Hotel Salak Tower yang ada di sekitar Taman Kencana yang diprotes warga karena ketinggiannya mencapai 20 lantai,” kata Bima.

Pengecekan dilakukan untuk memastikan apakah ada pelanggaran dalam pembangunan hotel tersebut. Sebab, menurut Bima, dalam pengecekan sebelumnya, berdasarkan rencana pembangunan belum ditemukan adanya pelanggaran. “Namun, saya sudah meminta pengembang memperhatikan keluhan dan kepentingan masyarakat,” katanya.

Sebelumnya warga Jalan Salak, menolak pembangunan Hotel Salak Tower. Warga mengaku tak pernah memberikan persetujuan dalam izin gangguan (HO) yang diajukan pengembang sebagai syarat pengajuan izin mendirikan bangunan (IMB).

“Keberadaan hotel yang menjulang tinggi di tengah-tengah pemukiman kami ini sangat meresahkan dan menggunggu privasi kami,” kata Argon Bastari, salah seorang warga.

Selain itu, katanya, batas antara bangunan hotel yang rencananya memiliki ketinggian 20 lantai dan bangunan rumah warga hanya berjarak sekitar 1,5 meter, sehingga mengganggu kenyamanan dan keamanan. Warga juga mempertanyakan pembanguan hoytel yang ada di kawasan cagar budaya. “Kabarnya kawasan ini adalah kawasan heritage,” kata Argon.

Berdasarkan data dari Badan Perizinan dan Penanaman Modal Terpadu Kota Bogor, hingga 2014 ada 14 hotel baru yang izinnya sudah dikeluarkan dan sebagian lokasinya berada di sekitar Kebun Raya dan Jalan Padjadjaran.

Bima menyatakan pemerintahannya mewarisi sejumlah perizinan yang ternyata sebagian bermasalah. Padahal dia menginginkan seluruh perencanaan tata ruang kota bermuara kepada dua indentitas yang melekat pada Kota Bogor. “Dua identitas tersebut Bogior sebagai kota pusaka karena banyak bangunan sejarah merupakan peninggalan Belanda dan Bogor sebagai kota hijau.

Sejumlah warga menyatakan pesimistis Bima bisa mengubah apalagi mencabut izin hotel yang akan berdiri itu. “Saya tak yakin, paling hanya kompromi soal bangunan, misalnya soal ketinggian,” kata Iwan, warga Ciomas. Ia menunjul Hotel Amarossa yang kini berdiri tegak di dekat tugu Kujang. “Dulu hotel itu banyak diprotes, tapi toh tetap berdiri, menutupi pemandangan Gunung Salak yang dulu bisa dilihat dari kampus IPB Baranangsiang,” katanya. (Sab,Tempo,)