Pasar Kuliner Hilang, Pasar Akik Muncul

Jumat, 09 Januari 2015

Karena sepi Pemkot Bogor mengubah pasar kuliner menjadi pasar batu akik. Dinilai tak menjamin semua pedagang batu akik pindah ke sana.

Wali Kota Bima Arya Sugiarto Rabu kemarin meresmikan pasar batu akik di pasar Devris, Jalan Veteran, Bogor Tengah. Pasar Devris sebelumnya merupakan pasar kuliner. Bimar berharap semua pedagang batu akik yang bertebaran di Bogor semua berkumpul di Pasar Devris. “Kalau masih di tempat lain malah akan semrawut,” kata Bima.

Sejumlah pejabat Bogor menyertai Bima dalam peresmian perubahan Pasar Kuliner menjadi Pasar Batu Akik itu. Mereka, antara lain, Ketua DPRD Kota Bogor, Untung B. Maryono dan Direktur Utama PD Pasar Pakuan Jaya, Ali Yusuf.

Menurut Ali, pengubahan fungsi itu karena ternyata tak banyak pedagang makanan yang berminat mengisi Pasar Kuliner. Menurut dia, karena kini tengah tren batu akik, maka ada ide untuk menjadikan pasar yang sepi ini menjadi pasar batu akik. Ada 40 penjual dan pengrajin batu akik yang bersiap masuk dan menempati lahan di Pasar Devris ini.

Bima sendiri mengakui tren batu akik yang demikian mewabah memang memunculkan banyak pedagang dan penggemar yang pada akhirnya akan lebih bagus jika dibangunkan pasar atau tempat jual beli batu akik secara khusus. “Hanya pertanyaan saya, sampai kapan batu akik jadi trending topic?” kata Bima.  Pada acara peresmian kemarin, Bima mendapat hadiah batu akik seharga Rp 2 juta dari Ketua DPRD Kota Bogor, Untung Maryono.

Seperti Bima, sejumlah penduduk menyatakan tak yakin batu akik itu akan bertahan lama. “Itu mode, lama-lama akan hilang,” ujar Totok, warga Indraprasta.

Menurut Totok, jika pasar kuliner itu sepi yang salah adalah Pemerintah Kota Bogor yang berarti tak becus membuat pasar yang menarik minat pedagang dan pembeli. “Saya juga tak yakin semua pedagang batu akik mau dan pindah ke sini,” kata dia. Totok menunjuk sejumlah batu akik di dekat Kebun Raya yang masih menggelar dagangannya. (WK)