Rabu, 18 Juli 2018

Restoran

Gadget

Samsung Galaxy S9 dan S9 Plus Hadir di Indonesia

Senin, 26 Februari 2018

article thumbnail "Sudah bisa pre order di Indonesia malam ini tepat Pukul 00.00 WIB di situs www.galaxylaunchpack.com," ujar Product Marketing Manager PT Samsung Electronics Indonesia, Annisa Maulina, dalam...
Selanjutnya..

Notch Remover, Penghilang Lekuk pada Layar iPhone X

Rabu, 15 November 2017

article thumbnail Aplikasi tersebut berfungsi secara efektif menghilangkan notch (lekuk) pada iPhone X dengan menambahkan bilah hitam ke bagian atas gambar, yang dapat Anda setel sebagai wallpaper dari menu...
Selanjutnya..

Artikel lainnya
Baner

L.R. Baskoro: Bahasa Polisi

  • PDF

PERHATIKAN  kata-kata ini: “diamankan”, “terduga teroris,” dan “dimassa”. Selanjutnya...

Pornografi di Buku Anak

  • PDF

Penggunaan buku Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia untuk siswa sekolah dasar sekali lagi menunjukkan kelalaian pendidik. Buku penunjang siswa kelas VI SD Negeri Polisi 4 di Bogor ini jelas bermuatan pornografi, dan sudah seharusnya ditarik dari peredaran. Sanksi berat semestinya dijatuhkan terhadap kepala sekolah yang sembrono.


Buku terbitan CV Graphia Buana itu memuat kisah Anak Gembala dan Induk Serigala yang bertutur tentang perempuan hamil korban pemerkosaan dan kemudian berjuang di warung remang-remang demi menghidupi anaknya. Pertanyaannya: moralitas apa yang hendak diajarkan dari cerita ini?


Kisah itu, apalagi dibumbui adegan seks dengan menggunakan bahasa orang dewasa, tidaklah pantas sekaligus berbahaya jika disuguhkan untuk siswa. Ahli bedah otak asal Amerika Serikat, Dr Donald Hilton Jr., bahkan meyakini pornografi dapat merusak prefrontal cortex di otak anak. Kerusakan ini membuat anak tak mampu mengendalikan nafsu dan emosi serta mengambil keputusan.


Fakta bahwa cerita Anak Gembala diunggah begitu saja dari blog seorang penulis cerpen juga menggambarkan betapa buku itu dibikin secara asal-asalan. Penerbit yang telah mencetak buku tersebut sebanyak 10 ribu eksemplar terkesan memburu keuntungan bisnis semata.


Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor semestinya cepat bertindak. Ia perlu memberi sanksi terhadap kepala SD yang mengizinkan penggunaan buku itu. Tiadanya sanksi justru semakin mencurigakan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penerbit buku siswa kerap kongkalikong dengan kalangan pendidik dan pejabat setempat. Inilah yang membuat mereka sering mengabaikan mutu buku siswa dan harga buku menjadi terlalu mahal.


Munculnya kisah tak mendidik dalam buku siswa bukanlah yang pertama. Di banyak daerah, cerita atau gambar porno dan kisah tak pantas juga kerap terselip dalam buku siswa. Setahun lalu, misalnya, kisah Bang Maman dari Kali Pasir membikin geger publik Jakarta. Cerita tentang tokoh lokal yang memiliki istri simpanan itu masuk buku penunjang siswa kelas II SD 9 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu turun tangan mengusut kasus buku di Bogor itu. Penerbitnya mesti diberi sanksi atau di-black list. Pejabat dan pendidik setempat yang sembrono pun tak bisa dibiarkan. Perlu diusut, apakah ada kongkalikong dengan penerbit. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, para pendidik jelas dilarang terlibat atau mengambil manfaat dari bisnis buku siswa.


Kita juga perlu memikirkan mekanisme seleksi buku yang lebih baik. Orang tua murid, praktisi penerbitan, dan pemerhati buku anak bisa dilibatkan untuk mencegah lolosnya buku-buku yang tidak pantas untuk siswa. Tanpa adanya perubahan mekanisme pemilihan buku, kelalaian serupa niscaya gampang terulang. (Opini ini dimuat di Koran Tempo, 15 Juli 2013)

LAST_UPDATED2

Ah, Amaroossa

  • PDF

SEBULAN terakhir ini sejumlah budayawan,  komunitas, serta mereka yang menyatakan kepeduliannya pada kota Bogor menyoroti pembangunan Hotel Amaroossa. Hotel yang pembangunannya tengah berlangsung dan terletak hanya selemparan batu dari Kebun Raya Bogor  tersebut dinilai merusak tata kota.


Alasan yang dikemukakan, hotel yang rencananya akan menjadi hotel dengan konsep butik dan konon direncanakan terdiri dari empat belas lantai itu menciderai tata letak Tugu Kujang yang sudah berdiri jauh sebelumnya dan tingginya  hanya sekitar 17 meter. Dari sudut pemandangan, siapa pun tahu tugu yang dipucuknya ada simbol senjata kujang dan disebut sebagai ikon Kota Bogor akan tenggelam. Amaroossa juga akan melengkapi hotel lain yang sudah banyak  di sepanjang Jalan Padjadjaran dan sekaligus head to head dengan Hote Santika yang terletak di depannya dan menyatu dengan Mal Botani.


Sejauh ini Pemerintah Kota Bogor dengan tegas  menyatakan tak ada kesalahan dalam perijinan pembangunan hotel tersebut, termasuk IMB hingga Amdal. Dari sisi sosial politik tak ada pula yang dilanggar. Singkatnya, Pemerintah Bogor menegaskan tak ada yang keliru dalam pembangunan hotel tersebut.


Adu debat soal ini tentu tak akan selesai jika masalahnya soal perijinan. Tapi, jika kita meletakkan pada konsep tata kota, estetika, dan keberpihakan pada rasa mencintai kota Bogor, kita bisa katakan Pemerintah Bogor melakukan kekeliruan.  Justru di sinilah sebenarnya Pemerintah Kota Bogor bisa bertindak cepat: pemberian ijin dengan alasan kawasan itu tidak terlarang dibangun hotel semestinya direvisi. Bukan justru memanfaatkan celah itu untuk menerima investor siapa pun yang masuk Bogor.


Bogor didengung-dengungkan sebagai kota untuk meeting, rapat, wisata dll tidak salah. Pembangunan hotel dan mal memang mendukung kota yang dikonsepkan seperti itu. Tapi pembangunan dengan membabi buta, mengijinkan siapapun untuk mendirikan hotel, mal di jalan atau wilayah yang mestinya dijaga dan untuk kepentingan publik, jelas keliru. Di sinilah Bogor mestinya memiliki wakil rakyat, pejabat pemerintahan, ahli hukum dan ahli tata kota yang  benar-benar bekerja untuk kepentingan publik, kepentingan warga Bogor, bukan investor atau siapa pun yang memberi sejumlah uang agar perijinan itu keluar.


Amaroossa kini terus menyelesaikan pembangunannya.  Jelas tak mudah menghentikan pembangunan hotel yang sudah lengkap perijinannya.  Satu-satunya jalan untuk menghentikan pembangunan hotel itu adalah jika hotel itu melanggar hukum. Baik dalam proses perijinannya atau letak bangunannya yang semestinya memiliki prinsip perimbangan dengan luas lahan hijau.
Jika ada pelanggaran hukum ditemukan dalam pengeluaran ijin itu, misalnya, oleh Kejaksaan Negeri, maka hanya itu  salah satu  cara menghentikan  Amaroossa, hotel yang telah menutup dan menelan pemandangan Gunung Salak jika kita melintasi Tugu Kujang. (Baskoro)



LAST_UPDATED2

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

intalk.eu - Situs web ini dijual! - intalk Sumber daya dan Informasi.