Kamis, 18 Januari 2018

Restoran

Gadget

Notch Remover, Penghilang Lekuk pada Layar iPhone X

Rabu, 15 November 2017

article thumbnail Aplikasi tersebut berfungsi secara efektif menghilangkan notch (lekuk) pada iPhone X dengan menambahkan bilah hitam ke bagian atas gambar, yang dapat Anda setel sebagai wallpaper dari menu...
Selanjutnya..

Tiga Unik Seri Yoga Lenovo

Minggu, 22 November 2015

article thumbnail Inilah  keunikan ketiganya. Lenovo Yoga 900. Bodinya tipis dan ringan. Engsel antara layar dan keyboard inilah yang menjadi keunikannya. Terdiri atas 813 keping baja, engsel dapat diputar hingga...
Selanjutnya..

Artikel lainnya
Baner

Adang Daradjatun : Jokowi Jangan Berubah !

  • PDF
Share

PESATNEWS – Sebagai sosok yang pernah ‘head to head’ dengan Fauzi Bowo pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2007, Adang Daradjatun merasakan sulitnya menerima kenyataan sebagai pihak yang kalah. Namun, sebagai negarawan dia mampu menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada.

Kondisi serupa kini dirasakan Fauzi Bowo yang maju bersama Nachrowi Ramli sebagai pasangan incumbent dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke ini harus menelan pil pahit kalah tipis dari pasangan  Jokowi- Ahok yang notabene bukan putra daerah. Adang sangat mengapresiasi sikap Foke yang menerima kenyataan sangat pahit dengan mengontak rivalnya seraya menyampaikan ucapan selamat. “Negarawan harus objektif dalam bersikap dan menilai setiap persoalan,” papar Adang yang gandrung main golf.

Golf bagi Adang bukan sekedar olahraga semata. Banyak hal-hal positif yang bisa dipetik dari olahraga milik kalangan atas itu. “Salah satunya nilai kejujuran,” ungkap politisi Partai Keadilan Sejatera (PKS) ini.

Kepada Fuad dari pesatnews, mantan Wakapolri ini menuturkan pandangan dan harapannya kepada gubernur DKI Jakarta terpilih Joko Widodo (Jokowi). Berikut petikan wawancaranya.

Apa analisa Bapak melihat kenyataan bahwa Fauzi Bowo (Foke) yang didukung banyak Parpol harus kalah dalam Pilkada DKI Jakarta oleh Jokowi yang hanya didukung PDI Perjuangan dan Gerindra?

Saya tidak menganalisa yang menang dan kalah, tapi saya lebih menganalisa bahwa suasana demokratis dimana hak pilih rakyat itu sudah menjadi milik rakyat, jadi prediksi-prediksi yang diperkirakan orang banyak yang meleset.

Saya melihat keikutsertaan rakyat pada saat Pilkada DKI Jakarta kemarin, seluruh masyarakat ikut dengan bergembira dan memberikan pilihan-pilihannya yang terbaik. Rakyat memilih tanpa terpengaruh oleh adanya isu money politics, isu kecurangan di KPUD, dan isu sara. Ternyata semua tidak terpengaruh, semuanya berjalan dengan baik.

Dengan dukungan bannya partai, diatas kertas seharusnya Foke lebih unggul. Apakah karena partai tidak berpengaruh terhadap pilihan kadernya menjadi penyebab kekalahan Foke?

Kalau saya bilang, partai tidak beropengaruh itu tidak benar juga. Tapi melihat kenyataan itu, sudah seharusnya partai harus mawas diri dan introspeksi, mengapa ini sampai terjadi. Kalau mau bicara objektifitas, berbicara tentang prosedur sebenarnya suara itu suara partai kan, tapi sekarang kenyataannya partai tidak bisa diprediksi.

Atau karena PKS tidak solid sehingga tidak 100 persen kadernya pilih Foke?

Saya tidak berani bilang tidak menjamin semuanya pilih Foke, perhitungan orang perorangan memilih apa, kan kita tidak tahu juga. Tapi dengan adanya kemenangan jokowi, itu sebagai bukti bahwa suara pada pilkada kemarin adalah suara rakyat, terserah datangnya dari partai manapun juga.

Bapak  Yakin PKS menyumbang 11 persen pemilih untuk Foke?

Saya masih yakin suara PKS solid sesuai arahan partai.

Kini Jokowi sudah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, apa yang dia harus lakukan?

Mudah-mudahan Jokowi persis seperti saya. Saya dulu, terus terang saja suara saya cukup besar, karena saya merakyat. Jadi apa yang dilakukan oleh Jokowi sebelum pemilihan dengan mendatangi warga di pinggiran kali, datang ke kaki lima, datang ke daerah miskin, jika sudah menjadi gubernur, apa yang dia lakukan sebelum pemilihan tetap dilakukan.

Apakah cara seperti itu bisa dilakukan di Jakarta?

Begini, berbicaranya kan berbicara tentang moralitas, sepanjang bahwa kita ingin lebih baik, walaupun itu suatu proses yang mungkin lima atau sepuluh tahun mendatang baru dirasakan hasilnya, tetapi sepanjang moral itu konsekuen terhadap idealisme, saya yakin bisa.

Tapi jika dalam sepuluh tahun ke depan kita tidak punya visi dan misi yang jelas, pasti tidak akan berhasil.

Hingga hari ini pelayanan dan birokrasi di Jakarta masih kurang baik, bahkan ada yang menganggap sudah parah. Apakah strategi yang akan dilakukan  Jokowi sanggup merubahnya?

Kalau dibilang parah, juga tidak. Karena saya yakin bahwa budaya melihat apa yang dilakukan seorang pemimpin pengaruhnya itu masih sangat kuat. Jika seorang pemimpin mampu memberikan contoh yang baik, saya yakin bawahannya juga akan baik.

Tapi mengelola Solo tidak sama dengan mengelola Jakarta. Pendapat Bapak?

Jokowi ini jangan main-main loh, ini suatu ujian yang berat bagi kemenangan beliau. Jangan disangka ini menang jadi enak, karena tidak mudah mengelola Jakarta.

Ada rumor menyebut, kemenangan Jokowi disokong pengusaha dan politisi hitam. Pandangan Bapak seperti apa?

Saya masih kurang mengerti dengan istilah politisi hitam dan pengusaha hitam, saya tidak mengerti dan tidak ada dalam kamus saya. Sepanjang bahwa kemitraan itu bisa membuat Jakarta menjadi lebih baik, saya rasa tidak ada label pengusaha hitam. Pengusaha hitam atau tidak kan tergantung Jokowi. Jokowi pasti tahu mana hitam dan tidak hitam.

Apakah slogan Jakarta Baru mengindikasikan semua serba baru?

Kalau untuk saya, program-program yang  sudah dicanangkan dan dikerjakan oleh Pak Sutiyoso dan Fauzi Bowo sebaiknya diteruskan. Pasti kedua mantan gubernur itu waktu membuat program kerja tersebut tidak pernah merencanakan sesuatu yang tidak baik.

Jadi dibiasakan kita jangan sebagai pejabat baru, terus program lama itu dianggap jelek.

Biasanya setelah pergantian pimpinan, akan terjadi mutasi besar-besaran. Apakah kebiasan ini sehat untuk Jakarta?

Jangan lakukan mutasi, itu tidak sehat. Siapa yang baik tempatkan, begitu enam bulan tidak baik, dipindahkan. Sepanjang dia baik, kenapa dipersoalkan. Itu yang selalu saya tidak senang, dalam birokrat kita, begitu ada pemimpin baru, lalu merasa bahwa pejabat yang lama itu tidak baik.

Ada pihak yang kuatir sosok Ahok sebagai Wakil Gubernur lebih dominan. Mungkinkah itu terjadi?

Dimanapun juga, seorang wakil dalam diskripsi suatu tugas pokok, posisinya adalah wakil. Jadi tidak boleh kewenangan wakil melebihi seorang kepala. Jadi jika ada wakil yang melebihi kewenangan-kewenangan kepala, itu salah besar.

Saya kan pernah menjabat sebagai  wakil kapolri, sepanjang keduanya bisa membagi-bagi pekerjaan, semuanya akan menjadi sistem kerja yang baik.

Harapan Bapak kepada pasangan Jokowi – Ahok nantinya seperti apa?

Saya titip saja kepada Jokowi, mudah-mudahn dengan kepemimpinan beliau Jakarta akan lebih maju. Karena Jakarta adalah ibukota negara, Jakarta adalah etalase bangsa dan negara.

Begitu orang turun dari pesawat di Bandara Soekarno – Hatta kemudian dia melihat kacau, atau tidak tertib, dia sudah menilai bahwa Indonesia, kurang tertib.**

intalk.eu - Situs web ini dijual! - intalk Sumber daya dan Informasi.